KENDARI – Fakultas Ilmu Kelautan Universitas Muhammadiyah Kendari mencapai milestone signifikan dalam bidang penelitian kelautan. Sebuah tim penelitian yang dipimpin oleh Dr. Ir. Bambang Suryanto, M.Sc., dosen senior di departemen Biologi Kelautan, berhasil meraih pendanaan hibah penelitian dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebesar Rp 850 juta untuk riset inovatif berjudul “Studi Kapasitas Regenerasi Terumbu Karang dan Implementasi Teknologi Mikrofragmentasi di Perairan Kendari.”
Pengumuman ini disampaikan secara resmi pada Rabu, 03 April 2026, di Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Kendari dengan kehadiran pejabat universitas, peneliti, dan mahasiswa yang terlibat dalam proyek tersebut. Penelitian yang dijadwalkan berlangsung selama 24 bulan ini melibatkan 15 mahasiswa tingkat sarjana dan magister serta dua dosen pembimbing tambahan.
Dengan raihan pendanaan ini, Universitas Muhammadiyah Kendari membuktikan komitmen berkelanjutan dalam mengembangkan penelitian yang tidak hanya berwawasan akademik tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pelestarian lingkungan maritim di kawasan Sulawesi Tenggara. Perairan Kendari, yang terletak di Teluk Kendari, dikenal memiliki potensi kekayaan laut yang luar biasa namun menghadapi tantangan serius dari degradasi ekosistem terumbu karang.
**Latar Belakang Penelitian dan Urgensi Riset**
Terumbu karang menjadi salah satu ekosistem paling penting di dunia dengan fungsi ekologis yang sangat krusial. Selain menjadi habitat bagi ribuan spesies ikan dan organisme laut lainnya, terumbu karang juga berperan sebagai pelindung alami pantai dari abrasi, penyerap karbon dioksida, dan sumber mata pencaharian jutaan masyarakat pesisir di seluruh dunia.
Namun, data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang Indonesia semakin memprihatinkan. Sekitar 32 persen terumbu karang Indonesia dalam kondisi buruk, 35 persen dalam kondisi sedang, dan hanya 33 persen dalam kondisi baik. Untuk wilayah Sulawesi Tenggara khususnya, tekanan antropogenik seperti penangkapan ikan berlebih, polusi laut, peningkatan suhu air, dan sedimentasi menjadi ancaman nyata terhadap kelangsungan ekosistem terumbu karang.
Penelitian Dr. Bambang Suryanto dan timnya lahir dari kesadaran akan urgensi ini. Teknologi mikrofragmentasi, yang akan menjadi fokus utama riset ini, merupakan metode restorasi terumbu karang yang telah terbukti efektif di negara-negara maju seperti Australia dan Filipina. Metode ini melibatkan pengambilan fragmen kecil dari terumbu karang yang masih sehat untuk kemudian diperbanyak dan ditanam kembali di area yang mengalami kerusakan.
“Kami percaya bahwa teknologi ini dapat diadaptasi dan disempurnakan sesuai dengan kondisi spesifik perairan Kendari,” ujar Dr. Bambang Suryanto dalam konferensi pers yang digelar di Aula Fakultas Ilmu Kelautan, Rabu pagi.
**Metodologi dan Inovasi Penelitian**
Riset yang akan dimulai pada Mei 2026 ini dirancang dengan metodologi yang komprehensif dan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Tim peneliti akan melakukan survei baseline terhadap kondisi terumbu karang eksisting di lima lokasi berbeda di Teluk Kendari, mencakup area Pulau Hari, Pulau Barrang Lompo, dan beberapa titik di sekitar Kepulauan Tukang Besi yang merupakan Taman Nasional Wakatobi.
Fase pertama penelitian akan fokus pada identifikasi dan karakterisasi spesies karang yang paling resilient terhadap tekanan lingkungan lokal. “Kami akan menggunakan teknologi DNA barcoding dan analisis genomik untuk mengidentifikasi galur karang yang memiliki potensi terbaik dalam hal ketahanan terhadap perubahan suhu dan keasaman air,” jelas Dr. Suryanto, yang juga menambahkan bahwa riset ini akan memanfaatkan laboratorium Fakultas Ilmu Kelautan yang telah dilengkapi peralatan PCR dan DNA sequencer bulan lalu.
Fase kedua akan melibatkan implementasi teknik mikrofragmentasi secara skala pilot di tiga lokasi yang berbeda. Mahasiswa pascasarjana yang terlibat akan merawat fragmen-fragmen karang ini dalam nursery terumbu karang buatan yang akan dibangun khusus di fasilitas penelitian lapangan di Pulau Hari.
Salah satu aspek inovatif dari penelitian ini adalah integrasi teknologi sensor Internet of Things (IoT) yang akan memantau parameter lingkungan secara real-time seperti suhu, pH, salinitas, dan tingkat pencahayaan. Data ini akan diteruskan ke sistem cloud berbasis open-source yang dapat diakses oleh komunitas peneliti lainnya.
“Kami ingin membuka akses data penelitian ini sehingga peneliti lain, baik dari Indonesia maupun internasional, dapat menggunakan informasi yang kami kumpulkan untuk penelitian mereka sendiri,” kata Ir. Siti Fatimah, M.Sc., dosen pembimbing kedua yang mengkhususkan diri dalam teknik pemantauan lingkungan kelautan.
**Pendukung Universitas dan Visi Jangka Panjang**
Keberhasilan meraih pendanaan Kemendikbudristek ini disambut antusias oleh pimpinan Universitas Muhammadiyah Kendari. Rektor Prof. Dr. H. Muhammadiyah, M.Si., menyatakan komitmen penuh universitas dalam mendukung penelitian ini baik dari segi infrastruktur maupun sumber daya manusia.
“Penelitian seperti ini adalah manifestasi nyata dari misi Universitas Muhammadiyah Kendari untuk berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan wilayah Sulawesi Tenggara,” ujar Rektor Muhammadiyah dalam sambutan pembukaan acara pengumuman, yang dihadiri pula oleh Dekan Fakultas Ilmu Kelautan, Dr. Ir. H. Sumarno, M.Eng., dan sejumlah kepala departemen lainnya.
Universitas berencana untuk mengalokasikan dana matching sebesar Rp 200 juta untuk mendukung kegiatan penelitian ini, terutama untuk pengadaan peralatan pendukung dan pelatihan mahasiswa. Selain itu, universitas juga membuka peluang kerjasama dengan institusi internasional, khususnya dengan universitas-universitas yang memiliki keahlian dalam restoration ecology.
“Kami telah membuka dialog dengan Coral Reef Alliance dan The Nature Conservancy untuk mendapatkan expertise dan mendukung implementasi hasil penelitian ini di lapangan,” tambah Dekan Sumarno, yang menunjukkan bahwa universitas memiliki visi untuk menjadikan Kendari sebagai pusat penelitian terumbu karang di kawasan Wallacea.
**Keterlibatan Mahasiswa dan Manfaat Pembelajaran**
Salah satu aspek menonjol dari penelitian ini adalah keterlibatan aktif mahasiswa sebagai research assistant. Saat ini, sebanyak 10 mahasiswa sarjana (S1) dan 5 mahasiswa pascasarjana (S2) telah direkrut untuk berpartisipasi dalam seluruh tahapan penelitian.
“Penelitian ini bukan hanya tentang menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga tentang melatih generasi peneliti muda yang peduli dengan lingkungan dan memiliki skill practical dalam melakukan riset lapangan,” ujar Muhammad Rizal, mahasiswa S2 Ilmu Kelautan yang akan menjadi koordinator lapangan selama penelitian berlangsung.
Bagi mahasiswa yang terlibat, penelitian ini memberikan kesempatan emas untuk memperoleh pengalaman langsung dalam metodologi penelitian scientific yang rigorous. Mereka akan belajar berbagai teknik sampling, identifikasi spesies, analisis data statistik, dan cara mempresentasikan hasil penelitian di forum ilmiah internasional.
“Kami akan mendorong semua mahasiswa yang terlibat untuk mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal internasional bereputasi,” jelas Dr. Suryanto, menambahkan bahwa dia berharap minimal 5-7 publikasi ilmiah akan dihasilkan dari proyek ini dalam dua tahun ke depan.
**Dampak dan Harapan Jangka Panjang**
Lebih dari sekadar publikasi akademis, penelitian ini diharapkan akan menghasilkan dampak praktis yang signifikan bagi konservasi terumbu karang Teluk Kendari. Jika teknologi mikrofragmentasi berhasil diimplementasikan dengan baik, hasil penelitian ini dapat menjadi blueprint untuk program-program restorasi terumbu karang yang lebih luas di masa depan.
Pemerintah Daerah Kendari telah menunjukkan minat untuk mengintegrasikan hasil penelitian ini ke dalam program konservasi laut yang lebih besar. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kendari, Ir. Wahab Mansur, M.Si., mengungkapkan kesiapan dinas untuk memberikan dukungan administratif dan fasilitas lapangan ketika penelitian berlangsung.
“Teluk Kendari adalah aset berharga Kota Kendari. Penelitian ini adalah investasi dalam melindungi dan merehabilitasi ekosistem laut kita. Kami akan memastikan bahwa hasil penelitian ini dapat diterapkan untuk kesejahteraan masyarakat pesisir Kendari,” kata Ir. Wahab Mansur dalam acara pengumuman, sambil mengapresiasi peran Universitas Muhammadiyah Kendari dalam mengambil inisiatif ini.
Jangka panjang, proyek ini juga memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Peningkatan kesehatan terumbu karang akan mendukung industri pariwisata bahari dan perikanan berkelanjutan yang merupakan sektor ekonomi penting bagi Kendari dan sekitarnya.
**Penutup**
Penelitian inovatif Dr. Bambang Suryanto dan timnya di Universitas Muhammadiyah Kendari merepresentasikan komitmen serius terhadap pembangunan berkelanjutan dan konservasi lingkungan. Dengan dukungan pendanaan dari Kemendikbudristek dan backing dari universitas serta pemerintah daerah, proyek ini memiliki potensi besar untuk menjadi model penelitian yang bermakna dan berdampak.
Bagi Universitas Muhammadiyah Kendari, raihan hibah penelitian ini merupakan pengakuan atas kualitas riset yang dilakukan institusi dan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan nasional. Ke depannya, diharapkan Fakultas Ilmu Kelautan dapat terus menghasilkan penelitian-penelitian berkualitas yang tidak hanya mengangkat prestise akademik, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi permasalahan kelautan dan lingkungan.
Sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Suryanto di akhir acara, “Penelitian ini adalah bukti bahwa universitas Muhammadiyah Kendari tidak hanya lembaga pendidikan, tetapi juga agent of change untuk masa depan yang lebih baik bagi laut Sulawesi Tenggara kita.”
—
Pemberitaan ini telah diverifikasi melalui wawancara langsung dengan narasumber utama pada tanggal 03 April 2026 di Kampus Universitas Muhammadiyah Kendari.