KENDARI — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Kelautan Universitas Muhammadiyah Kendari resmi meluncurkan program inovatif bernama “Bahari Cerdas” pada Sabtu, 19 April 2026. Program yang dirancang sebagai wujud tanggung jawab sosial mahasiswa ini menggabungkan edukasi lingkungan, riset lapangan, dan pemberdayaan masyarakat pesisir di Sulawesi Tenggara.
Acara peluncuran program diselenggarakan di Aula Blok B Kampus Universitas Muhammadiyah Kendari, Jalan Sultan Qaimuddin, dengan menghadirkan lebih dari 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, pejabat kampus, dan perwakilan masyarakat pesisir lokal. Program “Bahari Cerdas” dirancang sebagai inisiatif jangka panjang yang akan berlangsung selama dua tahun akademik dengan fokus pada tiga pilar utama: konservasi terumbu karang, pengurangan sampah plastik laut, dan pemberdayaan ekonomi nelayan lokal.
Berdasarkan wawancara dengan Ketua BEM Fakultas Ilmu Kelautan, Muhammad Rizky Pratama, program ini lahir dari keresahan bersama mahasiswa atas kondisi laut Sulawesi Tenggara yang semakin terancam. “Kami memiliki tanggung jawab sebagai mahasiswa ilmu kelautan untuk tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga berkontribusi nyata untuk menjaga kelestarian laut yang menjadi sumber kehidupan bagi ribuan masyarakat pesisir,” ujar Rizky, yang merupakan mahasiswa semester tujuh Program Studi Ilmu Kelautan.
Menurut data yang dipresentasikan dalam acara tersebut, Sulawesi Tenggara mengalami penurunan kesehatan terumbu karang sebesar 35 persen dalam lima tahun terakhir, sementara pencemaran sampah plastik di perairan Kendari mencapai 450 ton per tahun. Kondisi ini tentu saja berdampak signifikan terhadap kelestarian ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
Desain Program dan Target Implementasi
Program “Bahari Cerdas” dirancang dengan struktur yang komprehensif dan melibatkan berbagai divisi organisasi mahasiswa. Struktur organisasi pelaksana terdiri dari enam divisi utama: divisi konservasi terumbu karang, divisi pengelolaan sampah laut, divisi riset dan data, divisi pendidikan masyarakat, divisi kerjasama stakeholder, dan divisi dokumentasi dan media sosial.
Divisi konservasi terumbu karang akan melakukan penanaman 10.000 bibit karang di lima lokasi strategis perairan Kendari, disertai dengan program monitoring berkala setiap dua minggu. “Kami akan bekerja sama dengan nelayan lokal untuk melakukan penanaman karang dengan teknik yang sustainable. Ini bukan hanya tentang penghijauan laut, tetapi juga pemberdayaan ekonomi mereka karena nelayan akan mendapat insentif dan pelatihan dari kami,” jelas Ayu Maharani, koordinator divisi konservasi, dalam sesi diskusi panel.
Sementara itu, divisi pengelolaan sampah laut merencanakan kampanye pengurangan plastik yang agresif meliputi edukasi ke sekolah-sekolah, penyediaan tempat pengumpulan sampah di pantai-pantai utama, dan pelatihan mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Target mereka adalah mengurangi sampah plastik di laut sebesar 40 persen dalam tahun pertama implementasi.
Divisi riset dan data akan mengumpulkan data baseline kondisi laut melalui survei lapangan, wawancara mendalam dengan nelayan, dan analisis laboratorium terhadap sampel air dan sedimen. Data ini nantinya akan menjadi fondasi untuk pengambilan keputusan dan evaluasi dampak program secara ilmiah.
“Tidak ada program yang baik tanpa data. Kami ingin memastikan bahwa setiap keputusan dan intervensi yang kami lakukan didukung oleh bukti ilmiah yang solid,” kata Dr. Budi Santoso, Dekan Fakultas Ilmu Kelautan, dalam sambutannya pada acara peluncuran.
Dukungan Institusional dan Kemitraan Strategis
Kesuksesan program “Bahari Cerdas” didukung penuh oleh pimpinan Universitas Muhammadiyah Kendari. Rektor Unismuh Kendari, Prof. Dr. Ir. Baharuddin, menegaskan komitmen institusi dalam mendukung inisiatif mahasiswa ini. “Universitas Muhammadiyah Kendari berkomitmen untuk menjadi agen perubahan dalam pelestarian lingkungan. Program ‘Bahari Cerdas’ adalah contoh nyata bagaimana akademisi dapat diterjemahkan menjadi aksi sosial yang berdampak bagi masyarakat luas,” ujar Prof. Baharuddin dalam penyampaian amanatnya.
Pihak kampus juga menyediakan alokasi dana dari Anggaran Dasar Universitas sebesar 250 juta rupiah untuk tahun pertama implementasi program. Dana ini akan digunakan untuk procurement peralatan riset lapangan, pembelian bibit karang, pelatihan SDM, dan operasional kegiatan lapangan.
Selain dukungan dari kampus, program “Bahari Cerdas” telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai stakeholder eksternal. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, melalui Kepala Dinas Rizal Husain, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif mahasiswa. “Pemerintah sangat mengapresiasi komitmen mahasiswa untuk berkontribusi pada pelestarian laut. Kami siap memberikan akses data, fasilitas riset, dan dukungan teknis dalam pelaksanaan program,” kata Rizal Husain.
Selain itu, program ini juga melibatkan kemitraan dengan beberapa organisasi non-pemerintah lingkungan hidup, lembaga riset kelautan, dan komunitas nelayan lokal. Kolaborasi multi-stakeholder ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan program dalam jangka panjang.
Peran Organisasi Mahasiswa Lainnya
Program “Bahari Cerdas” tidak hanya menjadi inisiatif BEM Fakultas Ilmu Kelautan, tetapi juga mendapat dukungan aktif dari organisasi mahasiswa lainnya di Unismuh Kendari. Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Kelautan berkomitmen untuk menjalankan riset akademik yang mendukung implementasi program.
Berbeda lagi dengan Senat Mahasiswa Universitas yang menjadi jembatan antara program ini dengan mahasiswa dari fakultas lain, terutama untuk aspek edukasi lingkungan lintas disiplin ilmu. “Kami ingin ‘Bahari Cerdas’ menjadi gerakan kampus-wide, bukan hanya milik satu fakultas. Mahasiswa teknik bisa berkontribusi dalam teknologi pengolahan sampah, mahasiswa pendidikan bisa membantu desain kurikulum edukasi, dan seterusnya,” ujar Irene Wijaya, Ketua Senat Mahasiswa Universitas, dalam diskusinya.
Dampak yang Diharapkan
Rencana dampak jangka pendek program “Bahari Cerdas” mencakup peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa dan masyarakat pesisir, tersedianya data baseline kondisi laut Kendari, penanaman 10.000 bibit karang, dan pemberdayaan ekonomi minimal 200 kepala keluarga nelayan. Sementara dampak jangka menengah adalah pemulihan kesehatan terumbu karang sebesar 15-20 persen, pengurangan sampah plastik laut mencapai 30-40 persen, dan terbentuknya kelompok usaha masyarakat yang berkelanjutan.
Pada tataran jangka panjang, program ini diharapkan dapat menjadi model konservasi laut yang dapat direplikasi di daerah pesisir lain di Sulawesi Tenggara dan bahkan di seluruh Indonesia. “Jika program ini berjalan dengan baik, kami ingin mengundang universitas lain, mahasiswa dari berbagai institusi, untuk bergabung dan mereplikasi model yang sama di perairan mereka masing-masing,” tambah Rizky Pratama.
Lebih lanjut, Dr. Budi Santoso menekankan bahwa program ini juga menjadi sarana pembelajaran praktis bagi mahasiswa. “Mahasiswa tidak hanya belajar tentang ekologi laut dari buku dan laboratorium, tetapi langsung terjun ke lapangan untuk melihat, merasakan, dan mengatasi masalah nyata. Ini adalah pendidikan holistik yang sesungguhnya,” jelasnya.
Tantangan dan Strategi Pengatasan
Meskipun program dirancang dengan matang, pihak penyelenggara juga mengakui adanya berbagai tantangan yang mungkin dihadapi. Tantangan pertama adalah keberlanjutan finansial program dalam jangka panjang, mengingat alokasi dana dari kampus hanya untuk tahun pertama. Untuk mengatasi hal ini, BEM sedang mengembangkan proposal untuk mengakses pendanaan dari berbagai sumber, termasuk corporate social responsibility (CSR) perusahaan swasta, dana dari kementerian, dan donasi dari komunitas.
Tantangan kedua adalah ketersediaan SDM berkualitas untuk menjalankan program. “Program ini memerlukan mahasiswa yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga dedikasi, integritas, dan kemampuan untuk bekerja dalam tim lintas disiplin dan lintas institusi. Kami sudah merancang program pelatihan internal untuk memastikan setiap anggota tim memiliki kapasitas yang diperlukan,” ujar Ayu Maharani.
Tantangan ketiga adalah membangun kepercayaan dan keterlibatan aktif dari masyarakat pesisir yang mungkin awalnya skeptis terhadap program mahasiswa. Untuk mengatasi ini, BEM merencanakan sosialisasi intens dan pembentukan community ambassador yang berasal dari masyarakat pesisir sendiri. “Kami percaya bahwa perubahan berkelanjutan hanya bisa terjadi jika masyarakat adalah aktor utama, bukan hanya penerima manfaat pasif,” jelas Rizky.
Penutup
Program “Bahari Cerdas” merepresentasikan matangnya kesadaran mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya dari Fakultas Ilmu Kelautan, akan pentingnya mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan aksi sosial konkret. Inisiatif ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya konsumen pendidikan, melainkan juga agen perubahan yang mampu berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan pembangunan masyarakat.
Dengan dukungan penuh dari institusi kampus, kemitraan strategis dengan berbagai stakeholder, dan dedikasi dari para mahasiswa pengelola, program “Bahari Cerdas” memiliki potensi besar untuk menjadi gerakan perubahan yang signifikan bagi pelestarian laut Sulawesi Tenggara. Keberhasilan program ini akan menjadi bukti nyata bahwa universitas adalah institusi yang tidak hanya menghasilkan sarjana berkualitas, tetapi juga citizens yang peduli dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Ke depannya, diharapkan bahwa “Bahari Cerdas” dapat terus berkembang, melibatkan lebih banyak stakeholder, dan menciptakan dampak nyata yang terukur bagi ekosistem laut Sulawesi Tenggara dan kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung padanya.
—
[Berita ini ditulis oleh Redaksi Berita Kampus Unismuh Kendari, Sabtu 19 April 2026]